Selasa, 11 April 2017

# biologi

BIOLOGI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN



1.1 Latar Belakang
Biologi mengkaji berbagai aspek kehidupan. Kajian Biologi sebagai ilmu sangat luas, meliputi seluruh makhluk hidup, baik uniseluler maupun multiseluler yang hidup di darat, laut, atau udara. Objek atau kajian Biologi diklasifikasikan menjadi 5 kingdom, yaitu Animalia, Plantae, Monera, Protesta, dan Fungi.
Makhluk hidup yang dipelajari dalam ilmu biologi mencakup manusia, hewan, dan tumbuhan. Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Menurut Ismail Rajfi manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan (Jalaluddin, 2003). Hewan merupakan organisme eukariotik (organisme dengan sel kompleks)  yang multiseluler. Hewan tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis untuk membuat makanannya sendiri. Oleh karena itu, hewan harus mencari makanannya sendiri untuk mendapatkan energi  kemudian makanan tersebut dicerna di dalam tubuhnya. Proses ini membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida sebagai zat sisa. Berbeda dengan hewan, tumbuhan merupakan makhluk hidup yang mempunyai klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis untuk menghasilkan makanannya sendiri. Hal tersebut yang menjadikan tumbuhan sebagai produsen utama di bumi ini. Manusia, hewan, dan tumbuhan sendiri telah banyak dibahas di dalam Al-Qur’an. Dalam perspektif Al Quran manusia, hewan, dan tumbuhan masuk dalam bagian dari ayat-ayat Allah SWT yang harus di kaji dan direnungkan. Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang manusia, hewan, dan tumbuhan dalam perspektif Al-Qur’an dan tafsir mengenainya.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana perspektif manusia menurut Al-Qur’an dan tafsir mengenainya ?
2.      Bagaimana perspektif hewan menurut Al-Qur’an dan tafsir mengenainya ?
3.      Bagaimana perspektif tumbuhan menurut Al-Qur’an dan tafsir mengenainya ?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui perspektif manusia menurut Al-Qur’an dan tafsir mengenainya.
2.      Untuk mengetahui perspektif hewan menurut Al-Qur’an dan tafsir mengenainya.
3.      Untuk mengetahui perspektif tumbuhan menurut Al-Qur’an dan tafsir mengenainya.

























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perspektif manusia menurut Al-Qur’an dan tafsir
Ketika berbicara tentang manusia, Al-Qur’an menggunakan tiga istilah pokok. Pertama, menggunakan kata yang terdiri atas huruf alifnun, dan sin, seperti kata insan, ins, naas, dan unaasKedua, menggunakan kata basyarKetiga, menggunakan kata Bani Adam dan dzurriyat Adam.
Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang bermakna penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya.Dengan demikian, kata basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada dimensi material manusia yang suka makan, minum, tidur, dan jalan-jalan.Dari makna ini lantas lahir makna-makna lain yang lebih memperkaya definisi manusia. Dari akar kata basyar lahir makna bahwa proses penciptaan manusia terjadi secara bertahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Sebagaimana dalam firman-Nya QS.At-Tin ayat 4 :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya :
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

            Manusia juga merupakan makhluk yang paling mulia dibandingkan makhluk-makhluknya yang lain, “Kepada masing-masing  baik golongan ini maupun golongan itu kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi” (Al-Isra : 20) (Tim Baitul Kilmah, 2013).


a.      Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an, dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah SWT dari  tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya : 
"Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah" (QS. As Sajdah : 7).

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk" (QS. Al Hijr : 26).

b.      Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yang artinya :
       "   Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak..." (QS. An Nisaa’: 1)

Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan:
"Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam" (HR. Bukhari-Muslim).

Ayat-ayat di atas mengandung makna bahwa untuk manusia, Allah SWT menjadikan pasangannya dari jenis yang sama sehingga dapat terjadi rasa ketertarikan antara yang satu dengan yang lainnya untuk berkembang biak (Djuned, 2002). Apabila mengamati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tidak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
c.       Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dijelaskan secara terperinci melalui firman-Nya yaitu surat Al-Mu’minun ayat 12-14 yang artinya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (QS.Al-Mu’minun 12-14)

Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda: 
"Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim).

Al-Ghazali mengungkapkan proses penciptaan manusia dalam teori pembentukan (taswiyah) sebagai suatu proses yang timbul di dalam materi yang membuatnya cocok untuk menerima ruh. Materi itu merupakan sari pati tanah liat nabi Adam a.s. yang merupakan cikal bakal bagi keturunannya. Cikal bakal atau sel benih (nuthfah) ini yang semula adalah tanah liat setelah melewati berbagai proses akhirnya menjadi bentuk lain (khalq akhar) yaitu manusia dalam bentuk yang sempurna. Tanah liat berubah menjadi makanan (melalui tanaman dan hewan), makanan menjadi darah, kemudian menjadi sperma jantan dan indung telur. Kedua unsur ini bersatu dalam satu wadah yaitu rahim dengan transformasi panjang yang akhirnya menjadi tubuh harmonis (jibillah) yang cocok untuk menerima ruh. Sampai di sini prosesnya murni bersifat materi sebagai warisan dari leluhurnya. Kemudian setiap manusia menerima ruhnya langsung dari Allah disaat embrio sudah siap dan cocok menerimanya. Maka dari pertemuan antara ruh dan badan, terbentuklah makhluk baru manusia.
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan "Saya takjub pada keakuratan ilmiyah pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 M itu". Selain itu beliau juga mengatakan, "Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan) (Shihab, 2002).
Manusia terbentuk dari dua unsur diantaranya dari tanah dan dari tiupan luhur dari Allah SWT. Islam berpendapat bahwa bahan dasar kakek moyang manusia itu dari tanah, sementara bahan dasar kita ini adalah sperma yang hina. Hanya saja Allah SWT telah meniupkan roh-Nya. Di dalam diri kita, ada kehinaan dan ada pula kemuliaan. Tidak mungkin bisa dikatakan bahwa manusia itu hewan yang kotor. Bahkan, dia dimuliakan dengan tiupan Allah SWT.
Allah SWT telah menciptakan kakek moyang kita dengan tangan-Nya. Allah SWT juga memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada-Nya. Hal yang lain adalah bahwa manusia lemah karena tercipta dari tanah yang dibasahi yang kemudian menjadi tanah liat, berbentuk, dan menjadi tanah liat yang kering. Tanah liat kering itu dibiarkan hingga mengering dan menjadi seperti tembikar. Seandainya tidak ada tiupan Allah SWT, tentu tembikar itu menjadi patung yang tak bernilai (Thalbah, 2008).
2.2 Perspektif hewan menurut Al-Qur’an dan tafsir
Al-Qur’an telah banyak membahas tentang hewan, satu diantaranya terdapat dalam Surah An Naml ayat 66 yang berbunyi :

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ
Artinya :
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

Dari ayat di atas, setelah menyebut air yang turun dari langit, kini diuraikan sebagian yang di bumi. Ayat ini memulai dengan sesuatu yang paling banyak dan dekat dalam benak masyarakat arab ketika itu, yakni binatang ternak. Dan untuk itu disebut susu yang di hasilkannya, dan dengan demikian bertemu dua minuman yang keduannya di butuhkan manusia dalam rangka makanan yang sehat dan sempurna, yakni susu.
Para penyusun kitab tafsir al muntakhab yang terdiri dari sekian pakar mesir mengomentari proses terjadinya susu dengan menyatakan bahwa: “pada buah dada binatang menyusui terdapat kelenjar yang bertugas memproduksi air susu. Melalui uarat-urat nadi arteri, kelenjar-kelenjar itu mendapatkan suplai berupa zat yang terbentuk dari darah dan chyle (zat-sat dari sari makanan yang telah di cerna) yang keduanya tidak dapat di konsumsi secara langsung. Selanjutnya kelenjar-kelenjar susu itu menyaring dari kedua zat itu unsur-unsur penting dalam pembuatan air susu dan mengeluarkan enzim-enzim yang mengubahnya menjadi susu yang berwarna dan aromanya sama sekali berbeda dengan zat aslinya” (Shihab, 2002).
Penelitian berbagai kelompok hewan dan perilakunya telah dilakukan secara cermat dan akurat, dengan menggunakan beragam peralatan canggih hinnga satelit. Para penelitipun menemukan adanya kelompok-kelompok hewan yng hidup di tiga area biologis: udara, darat dan air. Dan penemuan terkini terus memperlihatkan hal-hal baru seiring dengan kemajuan sains tekhnologi. Temuan-temuan ini juga memperlihatkan keteraturan yang signifikan dalam aktifitas kolektif setiap kelompok hewan untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup mereka dalam bertempat tinggal, bermigrasi, membangun tempat tinggal, mempertahankan diri, mencari makanan, dan aktifitas-aktifitas lainnya (Ahmad, 2008). Para ilmuwan memperkirakan jumlah hewan mencapai lebih dari dua juta kelompok (family). Namun yang baru terngkap hingga sekarang hanya sebagian kecil saja.
2.3 Perspektif tumbuhan menurut Al-Qur’an dan tafsir
Tumbuhan sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup makhluk di muka bumi. Dimana telah diketahui bahwa produsen utama di bumi ini adalah tumbuhan. Allah SWT telah menciptakan berbagai macam tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia di bumi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Thaa-Haa ayat 53 yang berbunyi :



Artinya : “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.”

            Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan berbagai macam tumbuh-tumbuhan berupa tanam-tanaman dan buah-buahan, baik yang asam, manis, maupun pahit, dan berbagai macam lainnya (Abdullah, 2007). Semua itu diciptakan Allah SWT guna dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup manusia di bumi.
Tumbuhan merupakan salah satu makhluk hidup ciptaan Allah yang memiliki banyak sekali manfaat. Tumbuh-tumbuhan dapat memunculkan beberapa zat untuk dimanfaatkan oleh makhluk hidup lainnya, misalnya mulai beberapa vitamin-vitamin, minyak dan masih banyak lainnya. Dalam firman-Nya Allah menjelaskan dalam QS Al-an’am ayat 99 yang berbunyi :

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya :
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Semua proses pertumbuhan. Mulai dari permukaan yang mendapatkan siraman air, pergerakan, perkembangan dan pertumbuhan yang dialami oleh tanaman mulai sejak awal sampai dengan proses selanjutnya sebenarnya telah terangkum dalam kata didalam al-quran, seperti dalam kalimat ihtazzat yang berarti “bergerak”, wa robat yang memiliki arti “bertambah atau berkembang”, serta wa anbatat yang artinya “menumbuhkan”. Kata-kata yang telah disebutkan dalam al-quran ini sangatlah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan dalam penelitian-penelitian ilmu pengetahuan modern.
Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan (QS An-Nahl : 10-11).

Disetiap tempat kita dapat menemui berbagai jenis tumbuhan. Entah itu di taman, ladang, pedesan, perkotaan atau dimanapun itu. Sebagian tumbuh-tumbuhan dapat hidup dimanapun tempatnya. Akan tetapi ada juga beberapa jenis tumbuhan yang hanya dapat tumbuh ditempat tertentu saja. Ada tumbuhan yang hanya bisa tumbuh di daerah tropis, ada pula yang hanya cocok tumbuh didaerah subtropis.
Tumbuhan dibumi ini diciptakan oleh Allah berpasangan, ada yang jantan dan ada pula yang betina.

إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلۡحَبِّ وَٱلنَّوَىٰ‌ۖ يُخۡرِجُ ٱلۡحَىَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ مِنَ ٱلۡحَىِّ‌ۚ ذَٲلِكُمُ ٱللَّهُ‌ۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ
Artinya :
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin : 36).
Buah-buahan hasil dari tumbuhan yang kita makan sebenarnya merupakan hasil reproduksi antara bunga jantan dan bunga betina. yang dalam ilmu biologi sering disebut putik dan serbuk sari. Selesainya reproduksi terjadi dengan proses tumbuhnya  biji, setelah  terbukanya  tutup  luar (yang mungkin juga terpadat dalam  biji).  Terbukanya  tutup   luar   itu   memungkinkan keluarnya  akar  yang  akan  menyerap  makanan  dari  tanah. Makanan  itu  perlu  untuk   tumbuh-tumbuhan   yang   lambat pertumbuhannya,  yaitu  untuk  berkembang  dan  menghasilkan individu baru. Suatu ayat memberi isyarat kepada pembenihan ini dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam ayat 95 yang artinya :
"Sesungguhnya Allah membelah butit tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan."
Proses kehidupan tumbuhan mulai dari pertumbuhan awal sampai menghasilkan buah tersusun dari berbagai sel-sel. Mulai dari sel untuk menyimpan makanan yang telah diserap, sel pertumbuhan serta sel-sel lainnya.
Semua sel pada tumbuhan dibatasi oleh dinding-dinding sel yang terbuat dari selulosa. Selulosa yang masih muda dinding selnya sangatlah tipis sedangkan semakin tua selulosanya maka sel dinding sel semakin tebal. Itulah penyebab mengapa tumbuhan yang masih muda memiliki sifat yang lunak, lain halnya dengan tumbuhan yang tumbuh semakin tua maka semakin keras pula tumbuhannya itu.






















BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Kesimpulan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Ada banyak proses kejadian manusia mulai dari diciptakannya Nabi Adam, Siti Hawa, hingga keturunan Adam dan Hawa yaitu manusia sekarang. Dalam Al-Qur’an, banyak menyebutkan proses kejadian manusia salah satunya QS. Al-Mu’minun ayat 14. Bahwa manusia diciptakan dari nuthfah (setetes air mani),  kemudian air mani itu menjadi segumpal darah, lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging, dan segumpal daging itu menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus dengan daging. Kemudian Allah menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain yaitu manusia yang sempurna.
2.      Hewan merupakan makhluk hidup yang diciptakan Allah SWT dengan berbagai manfaat. Satu diantaranya yaitu hewan ternak yang memiliki kelenjar susu sehingga dapat menghasilkan susu. Dimana susu tersebut sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan akan protein pada manusia dan hewan.
3.      Tumbuhan merupakan salah satu makhluk hidup ciptaan Allah yang memiliki banyak sekali manfaat. Tumbuhan dibumi ini diciptakan oleh Allah berpasangan, ada yang jantan dan ada pula yang betina. Tumbuhan mengalami proses pertumbuhan yang sangat rumit. Mulai dari berkecambah dengan melakukan penyerapan air dari dalam tanah tumbuhan pun memulai perkembangannya. Tumbuh-tumbuhan yang oleh Allah disebutkan dalam Al-quran dan tumbuhan tersebut memiliki banyak manfaat dan khasiat misalnya tumbuhan kurma, jahe dan buah  tin.






DAFTAR PUSTAKA

Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. 2007. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, Penj. M. Abdul Ghoffar E.M. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Ahmad, Yusuf Al Hajj. 2008. Kemukjizatan flora dan fauna dalam Al quran dan Sunn. Yogykarta: Sajadah Press
Djuned, Daniel. 2002. Antropologi Al-Qur’an. Jakarta: Erlangga
Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Kusumawati, R., Retnaningati, dan M. Luthfi Hidayat. 2012. Detik-Detik Ujian Nasional Biologi SMA/MA. Klaten: Intan Pariwara
Shihab, M Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta: Lentera Hati
Thalbah, Hisham. 2008. Ensiklopedia Mukjizal Al-Qur’an Dan  Hadits. Bekasi: Sapta Sentosa
Tim Baitul Kilmah. 2013. Ensiklopedia Pengetahuan Al-Qur’an & Hadits jilid 4. Jakarta: Kamil Pustaka




MAKALAH

“BIOLOGI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN”
Disusun untuk Memenuhi Ujian Komprehensif Bidang Agama

Dosen Penguji : Dr. Ahmad Barizi, M.A


Disusun oleh :
Leni Setyowati               (13620015)









  




JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa beri komentar ya ?

instagram