Kamis, 24 Agustus 2017

perempuan

Kamis, Agustus 24, 2017 0 Comments
Perempuan

‘’Perempuan’’…
Apa yang kamu fikirkan ketika mendengarkan kata ‘’perempuan’’….?
Di era modern ini sosok perempuan tak lagi menjadi pribadi yang terkurung dalam rumah tanpa pendidikan dan hidup tanpa sebuah pilihan..
Sekarang perempuan mampu mengenyam pendidikan dan status jabatan yang setara dengan seorang laki-laki. Perempuan semakin mampu menujukkan kiprahnya dalam dunia bahwa mereka mampu ikut andil dalam menentukan suatu keputusan…
Semakin tinggi pendidikan seorang perempuan semakin tinggi pula kesempatan mereka untuk mendapatkan jabatan yang setara dengan laki-laki. Mungkin kita melupakan suatu hal bahwa tak semua perempuan mendapatkan kesempatan yang sama atas pilihan hidup mereka.
Disisi lain perempuan yang tak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang tinggi mereka harus berjuang atas hidup mereka sendiri. Pilihan hidup mengantarkan berberapa diantara mereka untuk menjual diri karena memang hanya itu harta yang paling berharga. Mereka dipandang hina ,tak berharga dan paling menyebalkan nya lagi justru yang memandang seperti itu kebanyakan mereka yang berpendidikan tinggi …..
Apakah setelah kebebasan emansipasi di era modern ini mampu menghantarkan perempuan menjadi suatu makhluk yang lebih terhormat dari sebelum zaman emansipasi?
Kebebasan bukan lah suatu anugerah terindah menurutku..
Kita lihat saja sekarang ini banyak sekali perempuan-perempuan yang tak mampu menjaga kehormatan dari banyaknya kasus pelecehan dan pemerkosaan yang diaalami para pelajar, padahal mereka diberi kebebasan mengenyam pendidikan diluar dan tak dipingit dalam rumah seperti perempuan zaman dahulu..
Kebebasan membuat perempuan tak mampu membendung sekat yang mampu menjaga perempuan itu sendiri, semua nya terlena bahkan suatu hal yang dulu kita anggap tidak biasa sekarang menjadi biasa,,
Wajah-wajah perempuan di tampilkan untuk menarik pembeli,, ini yang kalian sebut kebebasan emansipasi????
Perempuan tak ubahnya boneka cantik yang mampu dinikmati siapapa pun yang memegangnya,,,lewat media sosial wajah-wajah perempuan di konsumsi public dengan bebas nya dan kalian bangga karena punya banyak penggemar rahasia dan jumlah like yang banyak…
Jangan terlalu terlena dengan permasalahan kecantikan dan pasangan,,pikirkan masa depan dan mulailah tentukan pilihan.
Hey perempuan …
Bangkitlah ,,,
Kita dilahirkan sebagai seorang ibu yang akan melahirkan sosok-sosok pemimpin masa depan.. mari kita mulai merencanakan masa depan dengan mulai merubah kebiasaan yang haus akan pujian kecantikan menjadi haus akan pujian kecerdasan,,,
Mari kita saling tolong menolong kepada sesama perempuan untuk saling menguatkan,,jangan bercerai berai hanya soal cinta dan kecantikan,,
Hidup tak sepele itu kawan..
Kalian yang berpendidikan tinggi bantulah mereka yang tak mampu mengenyam pendidikan,,
Kalian yang punya jabatan tinggi bantulah mereka yang tak memiliki pengalaman pekerjaan dengan memberikan mereka pelatihan atau mungkin pekerjaan..
Mari kita saling menguatkan diri meramu masa depan dengan melahirkan sosok pemimpin yang berkeadilan..







Sabtu, 22 Juli 2017

Fungsi dan Sistem Kontrol Hormon Pankreatik dan Hormon Pertumbuhan

Sabtu, Juli 22, 2017 0 Comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tubuh memiliki dua macam kelenjar, yaitu eksokrin dan endokrin. Kelenjar eksokrin mensekresi hasil kelenjar ke dalam saluran atau ke permukaan luar tubuh. Kelenjar eksokrin meliputi kelenjar sudorifera (peluh), sebasea (minyak), mukosa, dan kelenjar pencernaan makanan. Kelenjar endokrin mensekresi hasil kelenjar ke ruang antar sel, di sekeliling sel-sel penghasil sekresi. Sekresi ini kemudian difusi kedalam kapiler dan diangkut oleh darah. Kelenjar endokrin meliputi kelenjar pituitary, tiroid, paratiroid, adrenal dan pineal. Beberapa organ tubuh berisi jaringan sel endokrin, tetapi bukan kelenjar endokrin yang sebenarnya. Organ-organ ini meliputi hipotalamus, lambung, usus halus dan plasenta.
Fungsi tubuh diatur oleh dua sistem pengatur utama yaitu sitem saraf dan sistem hormonal (sistem endokrin). Sistem saraf bersama sistem endokrin mengkoordinasi seluruh sistem tubuh. Sistem saraf mengendalikan homeostatis melalui impuls saraf (potensial aksi) yang dihantarkan sepanjang akson neuron. Pada terminal akson, impuls memicu lepasnya transmitter. Hasilnya adalah eksitasi (pembangkitan) atau inhibisi neuron lain, serabut otot, atau sel kelenjar. Sistem endokrin melepas molekul kurir yang disebut hormone ke dalam aliran darah. Kemudian menghantarkannya ke seluruh sel sasaran diseluruh tubuh. Tubuh tidak dapat mempertahankan homeostatis bila dua sistem ini berada pada arah yang berlawanan. Bagian tertentu sistem saraf merangsang atau menghambat lepasnya hormone. Sebaliknya, hormone dapat mendorong atau menghambat pembangkitan impuls saraf.
Pada umumnya, sistem hormonal terutama berhubungan dengan pengaturan berbagai fungsi metabolisme tubuh, mengatur kecepatan reaksi kimia didalam sel atau transport zat-zat melalui membrane sel atau aspek-aspek metabolisme sel lainnya seperti pertumbuhan dan sekresi. Suatu hormone merupakan zat kimia yang disekresi dalam cairan tubuh oleh suatu sel atau kelompok sel dan menimbulkan efek pengaturan fisiologis pada sel-sel lainnya.
Mengenai hormone, telah tertulis di dalam kitab Allah yaitu dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqon (25) ayat 2 sebagai berikut:


Artinya: yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukuran sengan serapi-rapinya.
Mengingat betapa pentingnya sistem hormonal (sistem endokrin) sangatlah penting untuk keberlangsungan metabolisme tubuh atau aktivitas sel maupun jaringan pada tubuh. Maka dari itu penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi dari beberapa hormone dalam tubuh. Dalam makalah ini juga akan dijelaskan sistem control beberapa hormone dalam tubuh beserta contoh aplikasinya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah penulisan makalah ini adalah:
1.      Bagaimanakah fungsi dan sistem kontrol hormon pankrearik (insulin dan glukagon)?
2.      Bagaimanakah fungsi dan sistem kontrol hormon pertumbuhan (GH)?
3.      Bagaimanakah pengaruh GH pada proses penggemukan ayam pedaging?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.         Menjelaskan fungsi dan sistem kontrol hormon pankrearik (insulin dan glukagon).
2.       Menjelaskan fungsi dan sistem kontrol hormon pertumbuhan (GH).
3.       Menjelaskan pengaruh GH pada proses penggemukan ayam pedaging.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hormon Pankreatik
Pankreas adalah organ pipih, terletak posterior atau belakang dan sedikit inferior atau bawah lambung. Organ ini memiliki dua fungsi yaitu fungsi eksokrin dan fungsi endokrin.
1.      Fungsi eksokrin: berfungsi sebagai sel asinar pancreas, memproduksi cairan pancreas yang disekresi melalui duktus pankreatikus ke dalam usus halus.
2.      Fungsi endokrin: ditemukan dalam pulau-pulau Langerhans atau pulau-pulau pankreatik yaitu kumpulan sel kecil yang tersebar diseluruh sel organ. Ada empat jenis sel penghasil hormonal yang teridentifikasi dalam pulau- pulau tersebut, yaitu:
a.       Sel alfa, mensekresi hormone glucagon yang meningkatkan kadar gula darah.
b.      Sel beta, mensekresi hormone insulin yang menurunkan kadar gula darah.
c.       Sel delta, mensekresi somatostatin atau hormone penghalang hormone partumbuhan yang menghambat sekresi glucagon dan insulin.
d.      Sel F, mensekresi polipeptida pancreas, sejenis hormone pencernaan (mengatur penglepasan enzim pencernaan pankretik) untuk fungsi yang tidak jelas, yang dilepaskan setelah makan.





2.1.1        Insulin
1.      Pengertian
Insulin merupakan protein kecil untuk insulin manusia. Insulin terdiri atas dua rantai asam amino, satu sama lain dihubungkan oleh ikatan disulfida. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar didalam membrane sel.
Sel-sel beta pulau-pulau Langerhans mengahasilkan insulin. Kegiatan fisiologik utama berlawanan dengan glucagon. insulin mempercepat:
a.       Transport glukosa dari darah ke sel terutama serabut otot kerangka.
b.      Mengubah glukosa menjadi glikogen (glikogenesis).
c.       Memasukkan asam amino ke dalam sel dan sintesis protein.
d.      Mengubah glukosa atau nutrient lain menjadi asam lemak (lipogenesis).
e.       Menurunkan glikogenolisis (perubahan glikogen menjadi glukosa).
f.        Memperlambat glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari asam amino tertentu dan asam laktat).

2.      Efek Fisiologi Insulin
a.       Efek insulin pada metabolism karbohidrat: glukosa yang diabsorbsi dalam darah menyebabkan sekresi insulin lebih cepat.
·         Meningkatkan, penyimpanan, dan penggunaan glukosa dalam hati.
·         Meningkatkan metabolisme glukosa dalam otot, penyimpanan glukosa dalam otot, dan meningkatkan transpor glukosa melalui membran sel otot.
b.      Efek insulin pada metabolism lemak: mempengaruhi lemak dari kekurangan insulin yang menyebabkan arteriosclerosis, serangan jantung, stroke dan penyakit vascular lainnya.
·         Kelebihan insulin menyebabkan sintesis dan penyimpanan lemak, meningkatkan transport glukosa ke dalam sel hati, serta kelebihan ion sitrat dan isositrat.
·         Penyimpanan lemak dalam sel adipose: menghambat kerja lipase yang sensitive pada hormone dan meningkatkan transport ke dalam sel lemak.
c.       Efek insulin atas metabolisme protein
·         Transport aktif asam amino dalam jumlah banyak ke dalam sel.
·         Membentuk protein baru dan meningkatkan translasi (sintesisi polipeptida) RNA.
·         Meningkatkan kecepatan transkripsi DNA.
`
3.      Mekanisme Kerja Insulin
a.       Insulin meningkatkan transport glukosa ke dalam sel/jaringan tubuh kecuali (otak, tubuh, ginjal, mukosa usus halus dan sel darah merah). Masuknya glukosa adalah suatu proses difusi karena perbedaan konsentrasi glukosa bebas anatar luar sel dengan dalam sel.
b.      Meningkatkan tranpor asam amino ke dalam sel.
c.       Meningkatkan sintesa protein di otak dan hati.
d.      Menghambat kerja hormone yang sensitive terhadap lipase, meningkatkan sintesa lipid.
e.       Meningkatkan pengambilan kalsium dari cairan sekresi.

4.      Pengaturan Sekresi Insulin
Efek terhadap glukosa darah adalah peningkatan kadar glukosa darah, misalnya setelah makan akan menstimulasi sel beta untuk memproduksi insulin. Insulin menyebabkan glukosa berdifusi ke dalam sel yang akan memakainya sebagai energy dan mengubah glukosa menjadi glikogen dalam hati atau menjadi lemak dalam jaringan adiposa. Asam amino dari protein akan meningkatkan sekresi insulin. Jika kadar glukosa darah turun, maka laju sekresi insulin juga turun.  

2.1.2        Glukagon
1.      Pengertian
Suatu hormone yang kegiatan fisiologik utamanya adalah meningkatkan derajad glukosa darah ketika kadar glukosa darah turun dibawah normal. Jaringan target utama glucagon adalah hati. Glucagon mempercepat perubahan glikogen menjadi glukosa (glikogenolisis), mendorong pembentukan glukosa dari asam laktat dan asam amino tertentu (glukogenesis), dan mempertinggi penglepasan glukosa ke dalam darah. Sebagai hasilnya, derajad glukosa darah naik.

2.      Efek glucagon
a.       Glucagon mempengaruhi sekresi insulin melalui peningkatan konsentrasi glucagon darah. Efek glucagon dan insulin berlawanan. Hal ini untuk mempertahankan kadar gula darah normal selama berpuasa atau makan.
b.      Sekresi glucagon dikendalikan oleh kadar gula darah
·         Kadar gula darah yang rendah akan menstimulasi sel-sel alfa untuk memproduksi glucagon.
·         Glucagon menyebabkan pelepasan glukosa dari hati sehingga glukosa darah meningkat.
·         Peningkatan glukosa darah akan menghambat pelepasan glucagon melalui mekanisme umpan balik negatif.
3.      Pengaturan Sekresi Glukagon
Efek konsentrasi glukosa darah mempunyai efek yang berlawanan dengan sekresi glucagon. Penurunan glukosa darah meningkatkan sekresi glucagon. glukosa yang rendah akan merangsang pancreas untuk menyekresi glucagon dalam jumlah yang besar.
2.1.3        Sistem Kontrol Hormon Insulin dan Glukagon
Fungsi hati sebagai sistem buffer glukosa darah yang sangat penting yaitu bila glukosa darah meningkat ke konsentrasi yang sangat tinggi setelah makan dan kecepatan sekresi insuin juga meningkat, sebanyak dua pertiga glukosa yang diabsorbir dari usus hampir segera disimpan di dalam hati dalam bentuk glikogen. Kenudia selama jam berikutnya bila konsentrasi glukosa darah dan kecepatan sekresi insulin turun, hati melepaskan glukosa ke dalam darah.
Jelas bahwa fungsi insulin dan glucagon sebagai sistem umpan balik terpisah dan penting untuk mempertahankan konsentrasi glukosa darah yang normal. Bila konsentrasi meningkat sampai kadar yang sangat tinggi, maka insulin disekresikan, sebaliknya insulin menyebabkan konsentrasi glukosa darah menurun ke arah normal. Sebaliknya, penurunan glukosa darah merangsang sekresi glucagon yang berfungsi dalam arah sebaliknya yaitu meningkatkan glukosa ke arah normal.
2.2              Hormon Pertumbuhan/ Growth Hormone (GH)
2.2.1 Fungsi GH
Hormone pertumbuhan (Growth Hormone,GH),sejenis protein yang terdiri atas hampir 200 asam amino,mempengaruhi berbagai ragam jaringan target dan mempunyai pengaruh langsung maupun pengaruh tropic. Disebut juga dengan istilah somatotrofin hormon. Growth hormone (GH) merupakan hormon yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan.GH mendorong pertumbuhan secara langsung dan merangsang produksi factor pertumbuhan sebagai contoh ,kemampuan GH untuk merangsang pertumbuhan tulang sejati dan tulang rawan sebagian disebabkan oleh pemberian sinyal dari hormone itu ke hati untuk menghasilkan factor pertumbuhan yang mirip insulin(insulinlike growth factor,IGF),yang beredar dalam plasma darah dan secara langsung merangsang pertumbuhan tulang sejati dan tulang rawan .(Respons endokrin ini terhadap hormone pertumbuhan memenuhi syarat untuk mengelompokkan GH sebagai hormone tropik dan sekresi IGF oleh hati memenuhi syarat untuk menggolongkan hati sebagai kelenjar endokrin,diantara banyak fungsi yang lain).Dalam keadaan tidak ada GH,pertumbuhan rangka hewan belum dewasa akan berhenti.Jika GH disuntikkan ke dalam seekor hewan yang telah kehabisan GH-nya sendiri,sebagian pertumbuhan akan bisa dipulihkan.
                          Berberapa gangguan pertumbuhan manusia dikaitkan dengan produksi GH yang abnormal.produksi GH yang berlebihan selama perkembangan dapat mengakibatkan gigantisme atau tubuh seperti raksasa,sementara produksi GH yang berlebihan selama masa dewasa dapat menyebabkan pertumbuhan tulang yang abnormal di lengan ,kaki dan kepala yang merupakan kondisi yang dikenal sebagai akromegali.Defesiensi dalam produksi GH pada masa anak-anak dapat menyebabkan kekerdilan pituaritan
System endokrin memperlihatkan waktu respons lebih lambat dari system syaraf .Pada system saraf ,potensial aksi akan berkerja sempurna hanya dalam waktu 1-5 milidetik,tetapi kerja endoksin melalui hormone baru akan sempurna dalam waktu yang sangat bervariasi berkisar anatar berberapa menit hingga berberapa jam.Hormon adrenalin berkerja hanya dalam waktu singkat ,namun hormone pertumbuhan berkerja dalam waktu yang sangat lama.Di bawah kendali system endokrin (menggunakan hormone pertumbuhan),proses pertumbuhan memerlukan waktu hingga puluhan tahun untuk tingkat pertumbuhan yang sempurna.
2.2.2 Sistem Kontrol GH
            Hormone pituitari paling banyak adalah hormon pertumbuhan (GH),juga dikenal sebagai somatotropin.Disamping menyebabkan sel-sel tubuh tumbuh ,GH mempunyai berberapa pengaruh pada metabolism.Umumnya GH akan :
1.          Merangsang sintesis protein dan menghambat pemecahan protein
2.         Merangsang lipolysis,pemecahan trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol
3.         Memperlambat penggunaan glukosa bagi produksi ATP.
Berberapa pengaruh GH tidak langsung ,karena GH merangsang hati untuk sintesis dan sekresi hormone kecil yang disebut somatomedins atau insulin like growth factor(IGFs),yang mengatur berberapa pengaruh GH.secara struktur fungsi ,soatomedins sama dengan insulin.Namun pengaruhnya dalam mendorong pertumbuhan lebih mampu. Sekresi GH dari pituitary anterior dikendalikan oleh dua hormone hipotalamik, Growth Hormone Relasing Hormone (GHRH) atau somatokrinine dan Growth inhibiting Hormone(GHIH) atau somatostain.
Derajad glukosa darah rendah merangsang hipotalamus mensekresi GHRH. saat sampai pada pituitary anterior ,GHRH merangsang somatotrophmelepas GH.GH dan somatomedin bersama-sama menaikkan glukosa darah.segera setelah derajad glukosa darah kembali normal ,sekresi GHRH berhenti. Hiperglisemia di lain pihak menghambat sekresi GH. Derajad glucagon darah tinggi yang tidak normal merangsang hipotalamus mensekresi GHIH yang menghambat lepasnya GH akibatnya derajad gukosa darah turun.

2.3              Hormon Pertumbuhan (GH) pada Proses Penggemukan Ayam Pedaging
Ayam pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan produksi daging dalam waktu relatif singkat (5-6 minggu). Ayam merupakan hewan vertebrata berdarah panas dengan tingkat metaboilsme yang tinggi. Anak ayam umur sehari (Day Old Chick/DOC) memiliki temperature tubuh 39 0C. Temperatur tubuh ayam dewasa rata-rata sekitar 40,6–40,7 0C. Temperatur tubuh ayam meningkat dari pagi sampai sore hari, kemudian menurun sampai tengah malam.
Pertumbuhan merupakan manifestasi dari perubahan sel yang mengalami pertambahan jumlah sel (hyperplasia) dan pembesaran ukuran sel itu sendiri (hypertrophi). Pertumbuhan pada ayam broiler paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu kemudian mengalami penurunan, dan terhenti sampai mencapai dewasa. Beberapa faktor yang mendukung keunggulan ayam broiler diantaranya adalah makanan, temperatur lingkungan, dan pemeliharaan. Perkembangan dan pertumbuhan ayam dapat diketahui dengan cara melakukan penimbangan bobot badan ayam setiap minggu, sehingga akan diketahui rataan pertambahan bobot badan hariannya.
Kajian sistem endokrin mengenai pertumbuhan dan perkembangan belum banyak dilakukan terhadap unggas. Selain dari faktor pemberian ransum dan keadaan makanan, pertumbuhan secara umum merupakan reaksi metabolisme dan faktor fisiologis yang merupakan akibat dari pengaturan kompleks sistem-sistem di dalam tubuh seperti sistem endokrin sampai dengan pengaturan genetis. Setiap pengaturan berbeda partisipasinya dalam pengaturan pertumbuhan. Pada penelitian Riyadi (2012) dilakukan pengamatan terhadap pertumbuhan dan polimorfisme gen Growth Hormone Receptor (GHR) pada ayam hasil persilangan ayam pelung dengan ayam broiler strain Ross dan tidak terdapat polimorfisme dan tidak memiliki asosiasi dengan pertumbuhan ayam.
Insulin-like Growth Factor-I (IGF-I) merupakan hormon yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan. Gen GH yang mengkode hormone pertumbuhan terlibat dalam berbagai fungsi fisiologis seperti pertumbuhan dan reproduksi. Sekresi gen ini dipengaruhi oleh jalur somatotropik. Pada ayam, diatur oleh Growth Hormone Relasing Hormone (GHRH), Thyrotropin-Relasing Hormone (TRH) dan Somatostatin dari bagan anterior kelenjar hipofisis.
Pertumbuhan secara efektif dikontrol oleh hormon dan salah satu hormon  yang penting dalam mengatur proses pertumbuhan adalah hormon pertumbuhan  (growth hormone). Hormon pertumbuhan dapat meningkatkan  bobot badan karena efek sintesis protein. Hormon pertumbuhan dapat menstimulasi pertumbuhan dan sintesis protein pada epifisis tulang kartilago  namun hal tersebut terjadi sebelum ada fusi. Ketika epifisis berfusi maka hormon pertumbuhan dapat berhenti bertambah akibat adanya hormon androgen atau estrogen. Prayitno, (2004) menyatakan bahwa hormon pertumbuhan yang disekresikan oleh pituitari anterior dan tiroksin yang disekresikan oleh kelenjar tiroid bekerja secara simultan dalam mengontrol pertumbuhan unggas menjelang pubertas. Hormon somatotropik dalam tubuh berfungsi memacu aktivitas sintesa protein, pembentukan kolagen, metabolism ion, metabolisme lipid, metabolism karbohidrat dan metabolisme mineral. Tiroksin di dalam tubuh berfungsi memacu aktivitas -aktivitas seperti peningkatan konsumsi oksigen, mempercepat denyut nadi, meningkatkan aktivitas metabolisme, meningkatkan cadangan nitrogen, meningkatkan penyediaan dan merangsang pembentukan hormon somatotropik. Meningkatnya hormon somatotropik dan tiroksin tersebut akan menaikkan konsumsi pakan, sehingga pertumbuhan akan lebih cepat. Peningkatan kedua hormon tersebut pada unggas menjelang pubertas dapat mempertinggi nafsu makan, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan meningkatkan laju metabolisme basal sehingga meningkatkan laju pertumbuhan.
Pada unggas ada dua hormon utama yang mengatur ekspresi pertumbuhan, yaitu GH dan T3 (triiodotironin). GH pada unggas disintesis secara langsung oleh somatotrof dalam lobus caudal pada pituitari anterior. T3 diproduksi dari monodeionasi hormon tiroid, tiroksin (T4), sedangkan T4 sendiri distimulasi oleh hormon pituitari anterior, tirotropin. Produksi T3 dan T4 diaktivasi oleh thyroid stimulating hormone (TSH) yang disekresikan oleh pituitari melalui mekanisme umpan balik negatif. Saat T3 dan T4 menurun, TSH disekresikan. Konsentrasi T3 yang disirkulasikan diatur dengan cara mengurangi deaktivasi GH, mekanisme ini dilakukan oleh T3-degrading type III deiodinase (Darras et al., 1993). Pada ayam muda, hipofisektomi menyebabkan penurunan pertumbuhan, baik bobot badan maupun pertumbuhan tulang, namun dapat diperbaiki dengan terapi penggantian GH atau T3 (King dan Scanes, 1986). GH dan hormon tiroid dimediasi oleh insulin-like growth factor (IGF 1) yang diproduksi oleh hati. GH juga meningkatkan plasma IGF 1 pada ayam dewasa. IGF 1 dilepaskan dari sel hepatosit akibat adanya GH, sinergis dengan GH dan  insulin. Konsentrasi IGF 1 yang disirkulasikan berkurang karena ada induksi methimazole kronik dengan konsentrasi yang sebagian diperbaiki oleh induksi T3 (Rosebrough dan McMurthy, 2003). Induksi IGF 1 menstimulasi pertumbuhan anak ayam. IGF 1 dpat meningkatkan massa otot rangka dan meningkatkan laju sintesis protein, serta menurunkan laju degradasi protein (Tomas et al. 1998).

Kerja hormon pertumbuhan efektif mulai postnatal dan paling efektif saat ternak mencapai pubertas, karena semakin dewasa tubuh ternak pengaruh hormon pertumbuhan semakin menurun.Berdasarkan hasil penelitian (Suaiba, dkk, 2015) menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan mulai meningkat pada umur 14 hari dan semakin meningkat pada umur 28 hari dan 35 hari dan kadar hormon pertumbuhan mulai meningkat pada umur 21 hari dan semakin meningkat pada umur 35 hari. Hal ini disebabkan pada masa pertumbuhan itik lebih banyak membutuhkan asupan makanan untuk masa pertumbuhannya dan protein yang terkandung digunakan untuk menyusun jaringan tubuh.











BAB III
PENUTUP
3.1              Kesimpulan
Makalah yang telah ditulis diatas dapat diambil kesimpulannya sebagai berikut:
1.      Hormone pankreatik diantaranya adalah hormone insulin dan hormone glucagon. Hormone insulin berfungsi untuk menurunkan gula darah, sedangkan hormone glucagon berfungsi untuk menaikkan gula darah. Sistem control kedua hormone tersebut dapat diambil contoh ketika setelah makan, maka gula dalam darah akan meningkat sehingga insulin tersekresi sehingga gula darah menurun. Ketika gula darah sudah turun maka hormone glucagon akan tersekresi sehingga gula darah kembali meningkat. Sehingga kedua hormone ini sangat penting dalam mengatur konsentras gula darah agar tetap dalam keadaan normal.
2.      Growth hormone (GH) merupakan hormon yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan. Sekresi GH dari pituitary anterior dikendalikan oleh dua hormone hipotalamik, Growth Hormone Relasing Hormone (GHRH) atau somatokrinine dan
3.       Pengaruh Hormone Growth pada proses penggemukan ayam pedaging adalah meningkatkan  bobot badan karena efek sintesis protein dan dapat menstimulasi pertumbuhan.







 DAFTAR PUSTAKA

A, Syaifuddin. 2009. Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 2. Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Campbel,Neil A. 2004. Biologi Jilid Kelima. Jakarta: Erlangga
Isnaeni,wiwi.2006.Fisiologi Hewan.Yogyakarta: PT kanisus media.
Soewolo. 2005. Fisiologi Manusia. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press)
Soeharsono. 2010. Fisiologi Ternak Fenomena dan Nomena Dasar dari Fungsi serta Interaksi Organ pada Hewan. Bandung: Widya Padjadjaran
Suaiba, Jazilatul, Abdul Gofur dan Susilowati. 2015. Pengaruh Umur Terhadap Pertambahan Bobot Badan dan Kadar Hormon Pertumbuhan pada Itik Mojosari (Anas platyrhynchos) Jantan. Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang
Tomas, F.M., Pym, R.A., McMurtry, J.P. dan Francis, G.L. 1998. Insulin-like growth factor (IGF)-I but not IGF-II promotes lean growth and feed efficiency in broiler chickens. General and Comparative Endocrinology 110 (3) : 262-275.




instagram